BENGKULU — Jepang adalah pasar mobil terbesar keempat di dunia, tapi juga salah satu yang paling sulit ditembus pabrikan asing. BYD sudah membuktikan diri di Eropa dan Asia Tenggara, namun negeri Sakura masih jadi PR besar. Juli lalu, pabrikan asal China ini meluncurkan senjata terbarunya: Racco, sebuah kei car listrik yang namanya diambil dari bahasa Jepang untuk "berang-berang laut".
Keputusan ini bukan tanpa perhitungan. Kei car adalah institusi di Jepang. Lahir tahun 1949 sebagai solusi transportasi murah pasca Perang Dunia II, segmen ini kini menyumbang lebih dari sepertiga total penjualan mobil tahunan di Jepang. Aturannya ketat: panjang maksimal 3,4 meter dan lebar maksimal 1,48 meter, dengan perlakuan pajak dan asuransi khusus.
BYD membandingkan Racco langsung dengan Nissan Sakura, kei car listrik terlaris di Jepang. Harga entry-level Racco dipatok ¥2.145.000 — sekitar Rp 240,2 juta atau USD 13.000. Di atas kertas, angka ini lebih rendah dari harga dasar Sakura.
Namun perlu dicermati: setelah subsidi nasional Jepang dipotong, harga jual Sakura bisa menjadi sedikit lebih murah dari Racco. Ini adalah titik krusial yang akan menentukan keputusan pembeli di showroom.
Di sinilah letak senjata utama Racco. Menurut data perbandingan yang disajikan BYD, Racco unggul dalam dua hal penting: kelengkapan fitur dan jarak tempuh baterai penuh. Nissan Sakura justru kalah di kedua aspek ini, padahal harganya setelah subsidi bisa lebih kompetitif.
Untuk pasar yang sangat sensitif terhadap spesifikasi seperti Jepang, keunggulan jarak tempuh adalah nilai jual yang sulit diabaikan. Kei car biasanya digunakan untuk mobilitas harian jarak pendek, tapi jangkauan ekstra tetap memberi rasa aman bagi pemiliknya.
Meski menawarkan paket menarik, Racco tetap menghadapi tantangan besar yang tidak bisa dianggap remeh. Konsumen Jepang terkenal loyal pada merek domestik dan memiliki standar layanan purna jual yang sangat tinggi. Jaringan dealer dan bengkel BYD di Jepang masih jauh dari kata matang dibandingkan Nissan yang sudah mapan puluhan tahun.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah nilai jual kembali. Mobil listrik China di Jepang belum punya rekam jejak panjang, sehingga depresiasi Racco bisa lebih curam dibanding Sakura yang sudah dikenal pasar. Biaya asuransi dan perawatan jangka panjang juga masih tanda tanya besar.
BYD Racco jelas bukan produk asal comot. Menyerang segmen kei car dengan harga agresif, fitur unggul, dan jarak tempuh lebih jauh adalah langkah tepat untuk membuka celah di pasar Jepang. Secara rasional, Racco menawarkan value proposition yang kuat di atas kertas.
Namun keputusan membeli mobil tidak pernah murni rasional, terutama di Jepang. Kepercayaan pada merek, jaringan layanan, dan nilai jual kembali adalah faktor emosional yang tidak bisa diukur dari lembar spesifikasi. Racco cocok untuk mereka yang mencari kei car listrik dengan fitur terlengkap dan jarak tempuh terjauh di kelasnya. Tapi untuk konsumen yang mengutamakan ketenangan purna jual dan nilai resale, Nissan Sakura masih menjadi pilihan yang lebih aman.