MUKOMUKO — Penanaman 1.000 batang mangrove di belakang Bandara Mukomuko tidak hanya bertujuan penghijauan lingkungan, tetapi juga untuk mencegah abrasi pantai dan erosi sungai yang selama ini mengancam kawasan tersebut. Kegiatan ini diprakarsai oleh KKMD Kabupaten Mukomuko bekerja sama dengan pemerintah daerah dan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Ketua KKMD Kabupaten Mukomuko Jajad Sudrajat yang juga Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup setempat mengatakan, seluruh unsur Forkopimda, bupati, wakil bupati, instansi vertikal, kepala OPD, dan perusahaan turut serta dalam aksi penanaman tersebut.
"Perusahaan yang memang terlibat dalam kegiatan, yakni perusahaan sawit yang mendukung mulai dari awal sampai pelaksanaan kegiatan penanaman mangrove ini," ujar Jajad dalam keterangannya, Sabtu.
Perusahaan yang disebutkan antara lain PT Daria Dharma Pratama (DDP), PT Agro Muko, dan beberapa perusahaan lain di sektor perkebunan kelapa sawit dan pengolahan minyak mentah kelapa sawit.
Kawasan di belakang Bandara Mukomuko selama ini rentan terhadap abrasi pantai dan erosi sungai. Dengan ditanamnya mangrove, akar-akar pohon diharapkan mampu menahan tanah dan mengurangi laju kerusakan garis pantai.
Jajad berharap kegiatan ini bisa mendorong berbagai pihak untuk ikut menanam pohon di kawasan kritis sempadan sungai dan pantai yang tersebar di Kabupaten Mukomuko. "Pelaksana KKMD kerja sama dengan pemkab dan perusahaan-perusahaan. Yang menginisiasi KKMD," katanya.
Pemilihan waktu penanaman bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2026. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya ekosistem mangrove bagi masyarakat pesisir Bengkulu, khususnya di Mukomuko.
Dengan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, hingga perusahaan sawit, penanaman 1.000 mangrove ini diharapkan menjadi langkah awal rehabilitasi kawasan pantai dan sungai yang kritis di daerah tersebut.