BENGKULU TENGAH — Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an masih terdengar setiap sore dan malam dari sebuah bangunan sederhana di Desa Taba Lagan. Di tempat itulah MDTA Annaafi menjadi pusat belajar agama bagi puluhan anak dari lima desa di Kecamatan Semidang Lagan.
Pimpinan MDTA, Bukhori, mengatakan lembaga yang berada di bawah pembinaan Kementerian Agama ini awalnya bernama Baitul Jannah. Seiring perjalanan, nama itu berubah menjadi MDTA Annaafi dan kini menaungi santri dari Desa Taba Lagan, Pulau Panggung, Lagan Bungin, Bukit, dan Jaya Karta.
Jumlah santri yang mencapai 89 anak membuat pihak madrasah membagi waktu belajar menjadi dua sesi. Kelas sore berlangsung setelah Salat Ashar hingga menjelang Magrib, sementara kelas malam dimulai setelah Salat Magrib.
Materi yang diajarkan mencakup membaca Al-Qur'an, hafalan doa harian, fiqih dasar, akidah akhlak, hingga pengetahuan keislaman sesuai jenjang kemampuan masing-masing santri.
Keterbatasan dana menjadi tantangan terbesar bagi kelangsungan madrasah ini. Operasional harian hanya bertumpu pada iuran santri sebesar Rp 15 ribu per bulan, ditambah bantuan swadaya masyarakat dan para dermawan.
Bangunan madrasah sendiri berdiri di atas lahan milik keluarga dan warga sekitar. Semua dibangun secara gotong royong tanpa mengandalkan anggaran pemerintah daerah.
"Semua dibangun bersama masyarakat. Kami hanya ingin anak-anak tetap memiliki tempat untuk belajar agama," kata Bukhori.
Kegiatan belajar mengajar ditangani enam tenaga pengajar yang mengabdikan diri secara ikhlas. Meski insentif yang mereka terima sangat minim, semangat membentuk generasi berakhlak mulia tidak pernah surut.
Bukhori mengakui tantangan administrasi seperti legalitas yayasan dan akreditasi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Pihaknya terus berupaya memenuhi persyaratan agar MDTA bisa berkembang dan memperoleh akses bantuan dari pemerintah.
Menurut Bukhori, pendidikan agama bukan sekadar proses belajar membaca Al-Qur'an, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk karakter generasi penerus. Ia berharap keberadaan MDTA Taba Lagan mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan para dermawan.
Tanpa intervensi nyata, bangunan sederhana ini akan semakin tertekan oleh kebutuhan operasional yang terus berjalan. Padahal, perannya bagi pendidikan Islam di lima desa tidak bisa dianggap remeh.