BENGKULU — Peresmian pabrik motor listrik nasional yang dijadwalkan berlangsung Kamis (13/8/2026) direspons positif oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli). Ketua Umum Aismoli Budi Setiadi menilai kehadiran fasilitas produksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal untuk memperkuat rantai industri kendaraan listrik roda dua yang sudah tumbuh lebih dulu.
Menurut Budi, proyek ini memiliki arti strategis karena berkelindan dengan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang diwajibkan mencapai minimal 80 persen untuk kendaraan listrik roda dua dan roda tiga mulai 2026. Artinya, pabrik ini tidak bisa sekadar menjadi jalur perakitan—harus ada transfer teknologi dan pendalaman industri komponen lokal.
Regulasi yang menjadi payung pengembangan ini sudah ditegaskan sejak lama melalui Perpres Nomor 55 Tahun 2019, kemudian diperbarui dengan Perpres Nomor 79 Tahun 2023. Keduanya mengarah pada percepatan adopsi kendaraan listrik sekaligus peningkatan penggunaan komponen dalam negeri.
Budi menekankan bahwa industri motor listrik lokal sebenarnya sudah melalui berbagai tantangan sebelum proyek nasional ini muncul. Ketidakpastian insentif, daya beli masyarakat, dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor yang menentukan. Karena itu, kehadiran pabrik baru ini diharapkan justru memperkuat pemain yang sudah ada, bukan berjalan sendiri dan mematikan ekosistem yang telah terbentuk.
Aismoli memproyeksikan pasar sepeda motor listrik Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai sekitar 70 ribu unit. Namun angka tersebut bisa meningkat hingga sekitar 100 ribu unit jika dukungan kebijakan dan stimulus berjalan memadai.
Proyeksi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri. Semakin besar pasar, semakin tinggi tuntutan terhadap kualitas produk—mulai dari harga yang kompetitif, daya tahan baterai, layanan purnajual, hingga ketersediaan suku cadang. Tanpa itu semua, target penjualan hanyalah angka di atas kertas.
Yang perlu diperhatikan dari optimisme ini adalah kesiapan infrastruktur pendukung. Budi menggarisbawahi bahwa ekosistem yang kuat tidak hanya soal manufaktur, tetapi juga jaringan pengisian daya, bengkel, hingga lembaga pembiayaan yang harus tumbuh bersamaan.
Tanpa dukungan sektor-sektor tersebut, motor listrik nasional akan kesulitan bersaing dengan kendaraan konvensional yang infrastrukturnya sudah matang. Momentum peresmian pabrik ini idealnya menjadi katalis bagi seluruh rantai industri untuk bergerak bersama, bukan sekadar menambah satu pemain baru di pasar.
Kehadiran pabrik ini juga menjadi bagian dari agenda pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Namun keberhasilan jangka panjangnya tetap bergantung pada satu hal: apakah produk yang dihasilkan benar-benar kompetitif di mata konsumen Indonesia, bukan hanya unggul di atas kertas.