BENGKULU — Kepastian ini diumumkan Jumat lalu setelah India memutuskan mundur lantaran bentrok dengan agenda uji coba melawan Brasil. Turnamen antarnegara Asia Tenggara yang digawangi FIFA itu akan berlangsung pada 21 September hingga 3 Oktober 2026, dengan Indonesia dan Hongkong bertindak sebagai tuan rumah.
Menariknya, keputusan ini bukan tanpa perdebatan internal. Anggota NTC sekaligus Komite Eksekutif BFF, Sayed Hasan Kanon, mengungkapkan bahwa Presiden BFF Tabith Awal sempat meminta pendapat anggota terkait dua opsi: menerima undangan ke Indonesia atau menggelar turnamen empat negara di Dhaka.
“Presiden BFF dan ketua NTC Tabith Awal meminta pendapat anggota NTC mengenai apakah akan berpartisipasi dalam Piala ASEAN FIFA atau menjadi tuan rumah turnamen empat negara di Dhaka,” kata Kanon.
Pilihan akhirnya jatuh pada ajang resmi FIFA. Status turnamen ini jelas lebih prestisius ketimbang laga undangan, sekaligus memberi Bangladesh jam terbang kompetitif melawan tim-tim Asia Tenggara yang kerap jadi lawan berat.
Dengan masuknya Bangladesh, komposisi Grup A Premier Division kini lengkap. Mereka akan memulai laga melawan Timnas Indonesia yang bermain di hadapan pendukung sendiri, plus Malaysia dan Singapura yang sama-sama punya materi pemain di atas kertas lebih unggul.
Bagi Bangladesh, ini ujian berat. Namun keikutsertaan ini juga menjadi kesempatan langka untuk mengukur performa melawan tim-tim yang rutin berlaga di level lebih tinggi.
Bagi skuad Garuda, perubahan ini mengubah sedikit peta persaingan. India sejatinya punya reputasi lebih kuat di level Asia, sehingga mundurnya mereka dan bergantinya posisi dengan Bangladesh bisa menjadi angin segar secara matematis di atas kertas.
Meski begitu, pelatih Timnas Indonesia tetap perlu mewaspadai kebangkitan tim berjuluk Bengal Tigers itu. Di ajang sekelas ini, motivasi tinggi kerap menjadi pembeda. Laga pembuka Grup A nanti akan menjadi ujian pertama seberapa siap Indonesia memanfaatkan status tuan rumah di tengah komposisi grup yang berubah di menit-menit akhir.