BENGKULU — Bagi Fiki Naki, transisi dari membuat konten spontan di depan kamera ponsel menjadi pemain film adalah lompatan besar. Pria yang dikenal fasih berbahasa asing ini harus beradaptasi dengan sistem produksi yang serba terstruktur, jauh dari kebiasaannya berinteraksi secara acak dengan orang asing di Ome TV.
Perbedaan paling fundamental yang dirasakan Fiki adalah hilangnya elemen kejutan. Dalam konten YouTube-nya, ia tidak pernah menyusun naskah atau merencanakan arah pembicaraan. Semua mengalir apa adanya, tergantung lawan bicara yang ditemuinya saat itu.
"Memang bermain film itu sangat-sangat berbedalah dengan aku buat YouTube. Karena juga satu, aku tuh nggak pernah buat YouTube yang sudah dibuat ada skrip atau semacamnya lah gitu ya, yang udah ada rencananya gitu," ujarnya di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).
"Jadi kayak setiap aku membuat Ome TV, 'gombalin' cewek, you know, gombalin ada yang ngobrol, ngobrol-ngobrol ya? Iya, ngobrol. Jadi itu nggak pernah ada 'Ah aku hari ini bahas apa ya?', nggak pernah. Jadi kayak ngalir aja gitu," sambungnya.
Di film, semua sudah diatur. Ada skenario yang harus diikuti dan sutradara yang memberi arahan. Hal ini menjadi tekanan tersendiri bagi Fiki yang mengaku belum pernah mengikuti kelas akting formal sebelumnya.
Kesulitan terbesar justru muncul saat harus bereaksi terhadap objek yang tidak terlihat. Adegan dengan efek visual, seperti ketika tawon masuk ke mata lawan mainnya, memaksa Fiki mengandalkan imajinasi murni di lokasi syuting.
"Dan yang paling susah itu apa ya? Akting ketika kita tuh kayak menganggap apa imajinasilah gitu ya, kayak mungkin di trailer juga ada ketika ada tawon yang masuk ke dalam mata Firza. Itu aku kayak ada tawon masuk terus kayak gini-gini', itu aku nggak bisa membayangkannya gitu," kata dia.
"Karena kan film pertama juga gitu kan, enggak pernah ikut kelas akting segala macamnya," tambahnya.
Beruntung, sutradara Dinna Jasanti disebutnya sangat sabar membimbing. Fiki mengaku terbantu dengan pendekatan personal yang diberikan Dinna selama proses produksi berlangsung.
"Jadi lumayan susah dan makanya kayak berterima kasih banget sama Bu Dina yang sabar gitu ya ngajarin 'Oke coba kayak gini, perlakuannya kayak gini' kayak gitu," jelasnya.
Meski penuh tekanan, Fiki menyimpan satu adegan yang membuatnya puas. Adegan tawon yang melibatkan Firza itu justru menjadi penutup rangkaian syuting, dan ia merasa energi antar pemain sudah menyatu sempurna di momen tersebut.
"Jadi selama syuting ini sebuah tekanan. Kalau tantangan semuanya menantang. Tapi di hari di mana Firza masuk tawon, yang mana itu hari terakhir syuting, mungkin sengaja juga kali ya Bu Dinna biar kayak 'Biar gini enak dulu nih, ya kan, menyatu dulu energinya, lingkungan dan semuanya'. Jadi aku cukup puas sih dengan adegan yang itu," pungkas Fiki Naki.
Paket Santet menandai langkah perdana Fiki Naki di industri perfilman Indonesia. Film ini menjadi ujian nyata apakah popularitas digital bisa diterjemahkan menjadi kemampuan akting yang meyakinkan di layar bioskop.