BENGKULU — Keputusan PBB ini menjawab kritik akademisi dan ahli geografi yang menilai peta Mercator memiliki bias persepsi politik dan ekonomi. Bagi negara berkembang seperti di Afrika, representasi peta yang keliru dianggap berdampak pada cara dunia memandang potensi sumber daya dan investasi di kawasan tersebut.
Proyeksi Mercator diciptakan pada 1569 oleh kartografer Flandria, Gerardus Mercator. Tujuan awalnya murni navigasi: membantu pelaut Eropa menarik garis lurus di peta yang sesuai dengan arah kompas di lautan.
"Ia ingin garis lurus yang ditarik pada peta tampak seperti garis lurus di dunia nyata jika Anda mengikuti arah kompas. Memang itulah tujuannya, dan peta ini melakukannya dengan sangat brilian," kata Profesor Kartografi James Cheshire dari University College London.
Masalahnya, untuk menjaga akurasi sudut navigasi, Mercator merentangkan garis grid semakin lebar saat mendekati kutub. Konsekuensinya, negara di dekat khatulistiwa tampak mengecil, sementara wilayah utara seperti Greenland, Eropa, dan Amerika Utara terlihat jauh lebih besar dari proporsi sebenarnya.
Distorsi ini bukan sekadar masalah teknis kartografi. Para pengkritik menilai ada efek psikologis jangka panjang: manusia secara naluriah menganggap wilayah yang tampak lebih besar di peta sebagai entitas yang lebih penting secara global.
Ahli geografi asal Kenya, Kioko Muendo, menegaskan konsekuensi nyata dari bias ini. "Peta lebih dari sekadar panduan bagi pelancong, peta membentuk bagaimana suatu wilayah dipersepsikan secara politik dan ekonomi," ungkapnya.
Akibatnya, sumber daya alam yang luas, populasi besar, dan peluang investasi di Afrika seringkali dipandang sebelah mata oleh investor dan pembuat kebijakan global.
Equal Earth dikembangkan tim kartografer pada 2018 untuk mengatasi kelemahan fundamental proyeksi Mercator. Peta ini terinspirasi proyeksi Robinson 1963 dan dirancang khusus menyajikan ukuran serta bentuk daratan secara proporsional.
Hasilnya signifikan: dalam proyeksi Equal Earth, Afrika tampil 14 kali lebih besar dari Greenland—sesuai fakta geografis—bukan sekadar terlihat sedikit lebih besar seperti di peta konvensional.
Setelah diadopsi Uni Afrika pada Februari, PBB kini meratifikasi peta tersebut sebagai standar representasi dunia yang lebih adil.
Kendati lebih akurat secara proporsi, Equal Earth bukannya tanpa kompromi. Peta ini mengorbankan garis lurus yang menjadi keunggulan utama Mercator untuk navigasi laut.
Selain itu, Equal Earth tidak dapat digunakan untuk mengukur jarak aktual antar lokasi secara presisi. Artinya, peta baru ini lebih cocok untuk tujuan edukasi dan representasi geografis umum, bukan untuk keperluan navigasi teknis.
Keputusan PBB ini membuka diskusi baru: apakah platform digital besar seperti Google Maps akan mengikuti standar baru ini, atau tetap mempertahankan Mercator demi fungsionalitas navigasi harian penggunanya.