Rupiah Hari Ini Berpeluang Menguat Terbatas, Keyakinan Konsumen September Turun ke 118,1

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:16:02 WIB
Pergerakan nilai tukar rupiah dipantau pada perdagangan hari ini.

JAKARTA — Data Bloomberg Jumat (9/10/2026) mencatat harga minyak Brent terpangkas 0,4 persen ke US$103,86 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 0,16 persen ke US$91 per barel. Indeks dolar AS ikut menyusut 0,02 persen ke 102,12.

Meredanya tekanan harga energi membawa sejumlah mata uang Asia ke zona hijau, meski penguatannya relatif terbatas. Baht Thailand dan won Korea Selatan masing-masing menguat 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, dan dolar Singapura 0,02 persen. Yen Jepang justru tergerus 0,13 persen.

Yield US Treasury Turun 5,9 Basis Poin

Ruang penguatan mata uang Asia sebagian ditopang meredanya tekanan di pasar obligasi global. Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 5,9 basis poin (bps) ke 5,22 persen, diikuti obligasi Jepang turun 5,1 bps jadi 3,02 persen dan Australia turun 6,3 bps jadi 5,32 persen.

Selandia Baru mencatat penurunan yield 6 bps jadi 5,03 persen. Adapun China dan Korea Selatan relatif stabil di 1,67 persen dan 4,39 persen untuk tenor 10 tahun.

Di pasar domestik, yield obligasi pemerintah RI berdenominasi dolar AS turun 3,6 bps jadi 6,24 persen. Namun obligasi rupiah masih tertekan dengan kenaikan yield 2,5 bps jadi 7,2 persen di tenor 10 tahun.

Investor Masih Minta Imbal Hasil Lebih Tinggi

Pergerakan yield global yang belum diikuti Surat Utang Negara (SUN) menggambarkan perbedaan persepsi investor soal risiko utang luar negeri dan tekanan yang masih membayangi pasar obligasi domestik. Investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset berdenominasi rupiah.

Jika tekanan yield US Treasury kembali terjadi disertai risiko geopolitik yang mengerek harga minyak, premi risiko Indonesia berpotensi diganjar lebih mahal. Kondisi itu membuat biaya pendanaan pemerintah meningkat, terutama saat menerbitkan surat utang baru untuk membiayai APBN dan membayar utang jatuh tempo.

Keyakinan Konsumen Kelompok Bawah dan Menengah Mulai Retak

Di pasar offshore, rupiah belum sepenuhnya mendapat apresiasi pasar dan bergerak konsolidasi dengan bias pelemahan akibat sentimen domestik. Salah satunya pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September yang turun menjadi 118,1 dari 118,5 pada Agustus.

Keyakinan konsumen yang memudar menambah tantangan bagi prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Pada kelompok pengeluaran rendah dan menengah, keyakinan itu sudah retak.

Jika pelemahan berlangsung lebih lama, rumah tangga akan semakin berhati-hati membelanjakan pendapatan dan memilih menunda pembelian barang tahan lama. Konsumsi pun berpotensi melambat.

"Risiko ini semakin besar apabila melemahnya persepsi terhadap lapangan kerja mencerminkan penurunan perekrutan tenaga kerja secara aktual atau berkurangnya pendapatan rumah tangga," sebut Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas, dalam catatannya.

Inflasi Naik ke 3,28 Persen

Samuel Sekuritas mempertahankan prospek hati-hati terhadap konsumsi rumah tangga hingga akhir 2026. Harry menilai percepatan inflasi menjadi 3,28 persen dari sebelumnya 3,19 persen berpotensi menekan daya beli dan membatasi dampaknya terhadap peningkatan belanja konsumen.

Di tengah faktor dan sentimen yang berkelindan, rupiah diperkirakan konsolidasi di rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Level Resistance dan Support Rupiah

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih punya peluang menguat, biarpun lajunya dibatasi sikap wait and see sejumlah sentimen. Rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat Rp17.850 per dolar AS, lalu Rp17.800, dan Rp17.700 sebagai level paling optimistis dalam tren jangka menengah.

Pada sisi lain, level support terdekat berada di Rp17.910 per dolar AS. Jika level itu tembus, support selanjutnya mengonfirmasi Rp17.950 sebagai support psikologis, juga Rp18.000.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: pedomanbengkulu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top