Karhutla Tanjung Puting Kalimantan Tengah, Relawan Kewalahan & Warga Serukan Water Bombing

Penulis: Syahrul Karim  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 10:52:02 WIB
Relawan gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

BENGKULU — Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memicu gelombang dukungan dan desakan publik terhadap pemerintah. Tim gabungan relawan mengaku kewalahan memadamkan api di lapangan. Warganet menuntut percepatan penanganan, termasuk pengiriman bantuan pemadaman dari udara.

Tim gabungan Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman. Keputusan itu diambil karena upaya pemadaman di lapangan belum menunjukkan hasil signifikan.

Relawan kemudian menyampaikan surat terbuka melalui media sosial pada Minggu (11/10/2026). Mereka meminta pemerintah mengerahkan bantuan pemadaman dari udara atau water bombing untuk mengatasi kebakaran yang terus meluas.

Kendala Kabut Asap Hambat Water Bombing

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, menjelaskan bahwa bantuan pemadaman di Tanjung Puting terkendala kabut asap yang tebal. Kondisi itu menyulitkan pengoperasian helikopter untuk melakukan water bombing.

"Kendala karena visibility rendah jadi pemadaman lewat udara/heli WB terhambat," kata Suharyanto dikutip dari detikNews.

Visibilitas rendah membuat pilot helikopter tidak bisa mengambil air dari sumber yang aman dan menjatuhkannya tepat di titik api. Tanpa dukungan udara, pemadaman mengandalkan personel darat yang jumlahnya terbatas.

5.000 Komentar Banjiri Media Sosial

Dari pantauan detikTravel di kolom komentar akun Instagram @moncos_thepuntal_puntal, Senin (12/10), lebih dari 5.000 komentar membanjiri postingan terkait situasi tersebut. Warganet beramai-ramai memberikan dukungan sekaligus mendesak pemerintah mempercepat penanganan.

Sebagian besar komentar berisi doa untuk keselamatan para relawan. Sejumlah lainnya menyuarakan kekecewaan soal lambatnya bantuan yang turun ke lokasi.

"Kalian semua pahlawan kita," tulis salah satu komentar.

Ada pula warganet yang menyinggung status Tanjung Puting sebagai destinasi wisata dunia. Menurutnya, tekanan publik diperlukan agar kebakaran ini mendapat perhatian serius dari pemerintah.

"Tanjung Puting destinasi wisata dunia loh.. Kalau nggak teriak dulu, mana ada bantuan dan diperhatikan," bunyi komentar tersebut.

Komentar bernada doa juga membanjiri kolom tersebut. "Hebat banget kalian para relawan, semoga Allah jaga semuanya dan Allah lembutkan hati pemimpin-pemimpin negeri agar lebih banyak lagi bertindak," tulis seorang netizen. "Semangat, terima kasih bantuannya. Semoga Allah mudahkan, semoga pemerintah segera bertindak dengan cepat dan serius," ujar warganet lain.

Dampak bagi Wisata Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai salah satu lokasi konservasi orangutan terbesar di dunia. Kawasan ini menjadi tujuan wisatawan mancanegara dan domestik yang ingin melihat orangutan Kalimantan di habitat aslinya.

Kebakaran yang berlangsung berkepanjangan berpotensi mengganggu jadwal kunjungan wisata. Kabut asap juga bisa membahayakan kesehatan pengunjung maupun warga sekitar.

Bagi traveler yang memiliki rencana berkunjung ke Tanjung Puting dalam waktu dekat, sebaiknya memantau perkembangan situasi melalui kanal resmi Balai Taman Nasional Tanjung Puting. Informasi terkini soal status kawasan dan akses masuk dapat dikonfirmasi langsung ke dinas pariwisata setempat.

Penanganan karhutla di Tanjung Puting masih berlangsung. Perhatian publik kini tertuju pada langkah pemerintah untuk menambah personel, mendatangkan peralatan pemadaman, dan mengatasi hambatan visibilitas yang memperlambat operasi water bombing.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top