BENGKULU — Perum Bulog memastikan pasokan pangan untuk korban bencana di NTT aman. Perusahaan pelat merah itu menyiagakan total 93.782 ton beras, jauh di atas proyeksi kebutuhan yang hanya mencapai 46.368 ton.
Angka tersebut dihitung berdasarkan data per 22 Agustus 2026. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan kesiapan perusahaannya dalam menjalankan peran mendukung pemerintah di tengah kondisi darurat.
"BULOG menyiagakan stok beras sebanyak 93.782 ton untuk mendukung penanganan bencana di NTT. Stok tersebut berasal dari ketersediaan beras di wilayah NTT dan dukungan mobilisasi dari wilayah lain," kata Rizal dalam keterangan resminya, Senin (24/8).
Rincian Stok dan Sumber Mobilisasi
Stok yang disiagakan terdiri dari dua komponen utama. Pertama, cadangan beras yang sudah tersedia di gudang Bulog wilayah NTT sebanyak 26.336 ton. Kedua, dukungan mobilisasi nasional (Movenas) sebanyak 67.446 ton yang dikirim dari Kantor Wilayah DKI Jakarta-Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat.
Dengan skema ini, Bulog tidak hanya mengandalkan kemampuan logistik lokal. Mobilisasi antarwilayah menjadi kunci untuk memastikan distribusi beras tetap berjalan meski kondisi geografis NTT yang berbukit dan tersebar antar pulau menyulitkan akses.
Perhitungan Kebutuhan dan Skema Bantuan
Proyeksi kebutuhan beras dihitung dengan cermat berdasarkan tiga skenario. Skenario pertama adalah kebutuhan dasar selama 14 hari masa tanggap darurat untuk 150.576 jiwa, yang diperkirakan mencapai 1.890 ton.
Skenario kedua mengantisipasi perpanjangan masa tanggap darurat hingga 10 kali lipat, sehingga Bulog menyiapkan tambahan 18.900 ton. Skenario ketiga mencakup dukungan program Bantuan Pangan (BP) pemerintah untuk tiga bulan alokasi kepada 852.631 penerima bantuan pangan (PBP). Dengan jatah 10 kilogram per penerima per bulan, kebutuhan untuk program ini mencapai 25.578 ton.
Total proyeksi kebutuhan tersebut mencapai 46.368 ton. Artinya, Bulog masih memiliki ruang ketersediaan sekitar 47.414 ton setelah memperhitungkan seluruh skenario, termasuk jika bencana susulan terjadi.
Cadangan Pangan Nasional Tetap Kuat
Kesiagaan stok di NTT tidak mengganggu ketahanan pangan nasional. Secara keseluruhan, stok beras Bulog di tingkat nasional per 22 Agustus 2026 tercatat sebesar 5.170.098 ton.
Jumlah tersebut memberikan fleksibilitas bagi Bulog untuk terus memobilisasi beras ke daerah yang membutuhkan tanpa menguras cadangan pusat. "Kami tidak hanya menghitung kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan ruang stok untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan. Prinsipnya, masyarakat terdampak bencana tidak boleh mengalami kesulitan mendapatkan pangan," tambah Rizal.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di tengah bencana. Dengan cadangan yang besar, Bulog diharapkan mampu menjadi penyangga utama jika distribusi logistik dari daerah lain terganggu akibat cuaca ekstrem yang kerap melanda NTT.