Pola Asuh Anak: Mengapa Orang Tua Perlu Mengenal Diri Sendiri Lebih Dulu

Penulis: Syahrul Karim  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 07:45:31 WIB
Orang tua mengikuti sesi refleksi diri tentang pola asuh di Bengkulu.

BENGKULU — Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, pernahkah Ibu menyadari bahwa reaksi kita saat anak rewel atau cara kita menegur mereka sering kali keluar secara otomatis, tanpa berpikir panjang? Itulah jejak pola asuh yang dulu kita terima, terbawa diam-diam hingga kita dewasa dan kini memengaruhi cara kita mengasuh.

Memahami diri sendiri bukan sekadar tahu kelebihan dan kekurangan. Dalam konteks pengasuhan, ini adalah keberanian untuk melihat ke belakang: bagaimana dulu orang tua kita berbicara, memarahi, atau menunjukkan kasih sayang. Dari situlah kita bisa memutuskan pola mana yang layak dipertahankan dan mana yang harus dihentikan agar tidak menular ke generasi berikutnya.

Refleksi Diri: Kunci Menghentikan Pola Asuh Negatif

Proses menjadi orang tua sebenarnya dimulai jauh sebelum anak lahir, tepatnya ketika kita mulai jujur pada diri sendiri tentang masa lalu. Pengalaman masa kecil, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, membentuk cara kita memandang disiplin, kasih sayang, dan komunikasi.

Jika Ibu dibesarkan dengan didikan keras, Ibu mungkin akan kesulitan bersikap lembut tanpa merasa bersalah. Sebaliknya, jika Ibu tumbuh dengan kasih sayang yang hangat, hal itu akan lebih mudah terpancar. Kesadaran inilah yang menjadi pembeda antara sekadar menjadi orang tua dan menjadi orang tua yang sadar penuh.

Buku Parenting sebagai Alat Bantu Mengenali Diri

Tidak perlu merasa sendirian dalam proses refleksi ini. Banyak buku parenting yang ditulis untuk membantu orang tua memahami kaitan antara masa lalu dan pola asuh saat ini. Membaca buku bukan hanya untuk mencari solusi cepat, tetapi juga untuk memantik pertanyaan-pertanyaan dalam diri.

Salah satu buku yang direkomendasikan adalah The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry. Buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana hubungan di masa kecil memengaruhi cara kita membangun kedekatan dengan anak. Ada juga The Whole-Brain Child karya Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson yang membantu orang tua memahami cara kerja otak anak, sehingga kita bisa merespons emosi mereka dengan lebih bijak.

Belajar Mengasuh Itu Perjalanan Seumur Hidup

Perlu diingat, setiap keluarga memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Tidak ada satu buku pun yang bisa menjawab semua masalah pengasuhan. Ibu tidak perlu merasa terbebani untuk membaca semuanya sekaligus atau menerapkan semua saran yang ada.

Mulailah dengan satu langkah kecil: luangkan waktu sejenak untuk merenung. Tanyakan pada diri sendiri, "Mengapa saya bereaksi seperti ini ketika anak menangis?" atau "Dari mana kebiasaan saya membandingkan anak dengan orang lain berasal?" Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah bekal berharga untuk mendampingi tumbuh kembang anak dengan lebih tenang dan penuh kesadaran.

Mengasuh anak adalah proses belajar yang terus berjalan. Dengan mengenal diri sendiri, Ibu bukan hanya membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak, tetapi juga memutus rantai pola asuh yang kurang tepat dari generasi sebelumnya.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: mindset.viva.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top