BENGKULU — Trafik bot dari jaringan Yandex anjlok ke 0,4% dari puncak permintaan HTTP dua pekan terakhir setelah Ukraina melumpuhkan sejumlah data center terbesar milik perusahaan teknologi Rusia tersebut. Cloudflare mencatat penurunan pertama ke sekitar 57% terjadi bersamaan dengan serangan ke fasilitas Yandex di Sasovo yang menampung dua superkomputer. Kampus Yandex kedua yang lebih besar di Kaluga juga dilaporkan tumbang beberapa waktu setelahnya.
Yandex, yang sering disebut sebagai "Google-nya Rusia", kini menanggung dampak langsung dari serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur komputasi awannya. Laporan status layanan Yandex Cloud menunjukkan setidaknya 84 layanan sedang offline, sementara firma pemantau internet global NetBlocks mencatat trafik jaringan Yandex Cloud turun ke 30% dan Yandex LLC ke 63%.
Penurunan trafik sebesar itu berpotensi membuat layanan internet di Rusia melambat atau terputus total bagi pengguna biasa. Masalahnya, warga Rusia tidak punya banyak opsi cadangan.
Serangan pertama menyasar data center Yandex di Sasovo, sekitar 195 mil (sekitar 314 kilometer) di tenggara Kremlin. Fasilitas itu menampung dua superkomputer yang menjadi tulang punggung layanan awan Yandex.
Gelombang berikutnya menghantam kampus Yandex yang lebih besar di Kaluga, sekitar 220 mil (sekitar 354 kilometer) di barat Sasovo. Serangan lanjutan kemudian dilaporkan juga menyasar data center di Vladimir.
Menurut pemantauan NetBlocks, keruntuhan jaringan Yandex terjadi dalam dua tahap yang berdekatan. Kampanye serangan ini muncul tak lama setelah Rusia mengancam akan memberi Ukraina "digital detox".
Serangan ke data center sipil terbilang perkembangan baru dalam konflik Rusia-Ukraina. Rusia beralasan fasilitas tersebut digunakan oleh intelijen militer Ukraina, sehingga dianggap target sah.
Data center militer memang lazim dijadikan sasaran dalam perang modern. Namun serangan ke fasilitas komersial membawa risiko lebih luas karena melayani jutaan pengguna sipil.
Preseden serupa terjadi di Timur Tengah. Situs AWS di Bahrain dan Uni Emirat Arab dilaporkan berkali-kali terkena serangan sejak Washington memulai kampanye pemboman terhadap Iran. AWS bahkan meminta kliennya memindahkan data ke lokasi di luar kawasan karena tidak punya jadwal pemulihan yang jelas.
Warga Rusia yang terdampak tidak bisa mengandalkan internet satelit berkecepatan tinggi sebagai cadangan. Starlink tidak beroperasi di Rusia, sementara konstelasi pesaingnya, Rassvet, kehilangan sejumlah satelit yang jatuh kembali ke permukaan setelah diluncurkan.
Yandex Cloud sendiri melaporkan puluhan layanannya masih offline. Bagi pengguna yang bergantung pada layanan awan Yandex untuk operasional harian, kondisi ini bisa berarti gangguan berantai.
Ketegangan Rusia-Ukraina meningkat tajam pada 2022 setelah upaya Rusia merebut Kyiv gagal. Sejumlah pengamat menilai perang sebenarnya sudah dimulai pada 2014, saat pasukan Rusia merebut Krimea dan menduduki sebagian Ukraina timur setelah jatuhnya pemerintah pro-Rusia.
Perang drone mengalami lompatan teknologi. Awalnya drone komersial dipakai di garis depan untuk pengintaian, menjatuhkan bahan peledak, dan serangan kamikaze. Kini drone yang dirancang khusus mampu menjangkau jarak lebih dari 1.500 mil (sekitar 2.414 kilometer) dan menghancurkan pembom strategis Tu-95 yang berada jauh di belakang garis depan.
Serangan terhadap data center menjadi babak baru dalam perang yang memindahkan medan tempur ke infrastruktur digital.