BENGKULU — Pemangkasan Dana Desa memaksa warga di berbagai wilayah Provinsi Bengkulu mengumpulkan dana secara swadaya untuk memperbaiki jalan dan jembatan rusak. Catatan Kompas.com menunjukkan gerakan patungan ini muncul di sejumlah kabupaten dengan cara beragam, mulai dari donasi, iuran warga, hingga perbaikan gotong royong.
Di beberapa titik, aksi ini dilakukan karena infrastruktur yang rusak berat tak kunjung disentuh pemerintah selama bertahun-tahun. Berikut enam gerakan swadaya warga yang tercatat di Bengkulu:
Jembatan Terapung Bambu di Bengkulu Tengah
Warga Desa Penanding, Bengkulu Tengah, membangun jembatan terapung berbahan bambu. Jembatan ini menggantikan jembatan permanen yang hanyut diterjang banjir enam tahun lalu.
Pengguna jembatan dikenai tarif Rp 5.000 sekali melintas. Uang tersebut digunakan untuk biaya perawatan jembatan darurat tersebut.
30 Petani Patungan Cor Jalan Produksi
Di Desa Pagar Jati, Bengkulu Tengah, sebanyak 30 petani sawit, karet, dan kopi sepakat patungan. Iuran mereka berkisar Rp 100.000 hingga Rp 500.000 per orang.
Dana terkumpul sekitar Rp 10 juta digunakan untuk mengecor jalan produksi sepanjang 50 meter. Jalan ini menjadi akses utama para petani mengangkut hasil kebun.
Warga Beli Aspal untuk Tutup Ratusan Lubang
Desa Tangsi Duren, Kabupaten Kepahiang, mengumpulkan dana Rp 15 juta. Uang itu dipakai membeli aspal untuk menambal ratusan lubang di jalan provinsi sepanjang 6 kilometer.
Jalan tersebut dikeluhkan rusak parah selama lima tahun terakhir dan menghambat mobilitas warga antarwilayah.
Iuran Rp 10 Ribu Hingga Rp 100 Ribu di Seluma
Tiga desa di Kabupaten Seluma, yakni Sinar Pagi, Talang Empat, dan Lubuk Resam, sepakat menggelar patungan. Mereka memperbaiki jalan sepanjang 13 kilometer yang menghubungkan antar desa.
Besaran iuran dibedakan sesuai kategori warga, mulai Rp 10.000 hingga Rp 100.000. Skema ini dipilih agar semua lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi.
Kakek 74 Tahun Habiskan Dana Pribadi untuk Jalan
Di Desa Sari Mulyo, Seluma, seorang warga bernama Nurman (74) memperbaiki jalan sepanjang 900 meter menggunakan dana pribadi. Aksinya itu kemudian mendapat dukungan donasi sukarela dari pengguna jalan yang merasakan manfaatnya.
Mukomuko Juga Terdampak
Gerakan serupa juga muncul di Desa Talang Buai, Kabupaten Mukomuko. Meski detail teknis perbaikan berbeda, semangat yang diusung sama: infrastruktur tidak boleh dibiarkan rusak hanya karena menunggu anggaran pemerintah turun.
Fenomena ini menjadi potret gotong royong di tengah keterbatasan fiskal negara. Namun, di sisi lain, inisiatif warga juga menyiratkan sinyal bahwa akses layanan dasar masih belum optimal di sejumlah daerah.