Pencarian

Gempa M7,1 Guncang Jepang Didorong Sesar yang Diam Sejak 2016, Ahli Peringatkan Potensi Susulan Kuat

Rabu, 29 Juli 2026 • 10:29:31 WIB
Gempa M7,1 Guncang Jepang Didorong Sesar yang Diam Sejak 2016, Ahli Peringatkan Potensi Susulan Kuat
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa (8/8).

JAKARTA — Gempa bumi kuat yang melanda barat daya Jepang pada Selasa (8/8) didorong oleh tekanan dari sesar lama yang belum sepenuhnya retak. Peristiwa ini menghidupkan kembali kekhawatiran akan siklus seismik di kawasan yang sama.

Mengapa Gempa Kini Terjadi di Lokasi yang Sama?

Pusat gempa terbaru berkekuatan M7,1 itu berpusat di Prefektur Kumamoto, tak jauh dari episentrum dua gempa darat besar pada April 2016. Kala itu, gempa M6,5 pada 14 April disusul M7,3 dua hari kemudian, menewaskan lebih dari 270 orang dan merusak kawasan tersebut.

Ketiga gempa—baik yang terjadi pada 2016 maupun yang terbaru—sama-sama mencatat skala intensitas seismik tertinggi level 7 pada skala Jepang di sejumlah wilayah prefektur tersebut.

Sesar Hinagu: Segmen yang Hampir Tidak Bergerak Selama 10 Tahun

Zona sesar aktif Hinagu dan Futagawa membentang di wilayah tengah Kyushu dan menjadi pemicu gempa 2016. Namun, para ahli berulang kali mengingatkan bahwa bagian selatan zona sesar Hinagu—yang membentang hingga Laut Yatsushiro—nyaris tidak mengalami pergeseran pascagempa satu dekade lalu.

“Gempa tahun 2016 diyakini telah memicu tegangan dan tekanan besar, yang akhirnya menyebabkan pergerakan di sepanjang zona sesar Hinagu kali ini,” jelas Shinji Toda, Profesor Seismologi dari Universitas Tohoku, dikutip dari kantor berita Kyodo.

Temuan Toda menunjukkan bahwa jumlah gempa berkekuatan M1,5 atau lebih di dekat zona sesar Hinagu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum gempa 2016. Analisis aktivitas seismik selama satu dekade terakhir itu memperkuat dugaan bahwa tekanan yang terakumulasi akhirnya dilepaskan.

Mekanisme Sesar Geser yang Sama

Menurut Badan Meteorologi Jepang, gempa pada Selasa pukul 16.27 waktu setempat terjadi pada kedalaman 16 kilometer. Mekanismenya adalah sesar geser (strike-slip fault), yaitu kondisi ketika dua lempeng berdekatan bergeser secara mendatar—karakteristik yang identik dengan gempa 2016.

Meski memiliki pola yang mirip, Badan Meteorologi Jepang sejauh ini belum secara eksplisit mengaitkan gempa hari Selasa ini dengan rangkaian gempa besar satu dekade lalu. Namun, para ahli menekankan bahwa potensi gempa susulan kuat masih perlu diwaspadai.

Follow www.bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bengkulu.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks