Pencarian

Meta Bayar USD 18 Miliar untuk Selesaikan Tuntutan Keselamatan Anak, tapi Teknologi Verifikasi Umur Masih Jadi PR

Kamis, 27 Agustus 2026 • 07:48:31 WIB
Meta Bayar USD 18 Miliar untuk Selesaikan Tuntutan Keselamatan Anak, tapi Teknologi Verifikasi Umur Masih Jadi PR
Meta menandatangani kesepakatan senilai USD 18 miliar dengan 52 jaksa agung AS untuk menyelesaikan tuntutan terkait keselamatan anak di platformnya.

BENGKULU — Kesepakatan bersejarah itu ditandatangani Rabu lalu bersama 52 jaksa agung AS. Meta memang tidak mengakui kesalahan, tetapi mereka berkomitmen menerapkan perubahan menyeluruh pada cara anak di bawah umur menggunakan kedua platformnya. Langkah ini lazim diambil perusahaan teknologi untuk menghindari persidangan juri yang risikonya jauh lebih besar.

Jessica Nall, teknolog litigator dari firma hukum Withers, menilai angka USD 18 miliar terdengar besar, tapi dampak finansialnya sebenarnya lebih lunak dari yang terlihat. "Fakta bahwa pembayarannya dilakukan selama 10 tahun benar-benar mengurangi dampak finansial dari angka besar itu, terutama jika dibandingkan dengan pendapatan tahunan Meta," ujarnya kepada TechCrunch. Sebagai gambaran, pendapatan Meta sepanjang 2025 menembus USD 200 miliar—lebih besar dari PDB mayoritas negara Eropa.

Perubahan Desain yang Disepakati

Meta menyetujui serangkaian aturan perlindungan anak paling detail yang pernah diadopsi platform besar. Pengguna yang teridentifikasi sebagai anak di bawah umur akan dibatasi penggunaan aplikasi maksimal dua jam per hari secara default. Sistem juga memunculkan notifikasi setiap 15 menit untuk mengingatkan pengguna agar tidak terlalu lama berselancar.

Akun anak di bawah umur juga otomatis diblokir dari aplikasi Meta pada pukul 00.00 hingga 06.00, dan notifikasi akan dibisukan selama jam sekolah (08.00-15.00). Selain itu, remaja tidak akan bisa melihat jumlah "like" pada unggahan mereka sendiri maupun unggahan orang lain.

Verifikasi Umur: Celah Privasi yang Belum Terpecahkan

Masalahnya, semua perubahan desain itu bergantung pada teknologi verifikasi usia yang masih bermasalah. Dr. Alexis Ingber, profesor komunikasi di Syracuse University, menegaskan bahwa sistem yang ada saat ini belum efektif membedakan anak dan orang dewasa. "Perubahan desain yang diusulkan tampak hebat di atas kertas, tapi semuanya bergantung pada teknologi verifikasi usia yang sukses, efektif, dan tidak bias," katanya.

Teknologi verifikasi usia modern memang sudah jauh berkembang dari sekadar klik "Ya, saya 21 tahun". Perusahaan biasanya memakai pemindaian biometrik (seperti selfie), pemeriksaan KTP digital, atau analisis pola perilaku. Namun setiap metode punya kelemahan: analisis perilaku sering salah menilai orang dewasa sebagai anak-anak atau sebaliknya, sementara pemeriksaan KTP dan biometrik memaksa pengguna menyerahkan dokumen sensitif ke pihak ketiga hanya untuk memakai aplikasi.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Discord sempat mengalami penolakan keras pengguna saat mencoba menerapkan verifikasi usia global awal tahun ini, hingga akhirnya menunda peluncuran.

Ada Jalan Keluar, Tapi Butuh Kehati-hatian

Tidak semua pihak pesimistis. Philip Yannella, co-chair kelompok privasi dan keamanan data di firma hukum Blank Rome, menilai teknologi verifikasi usia sudah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. "Saya tidak akan bilang tidak akan ada masalah privasi, tapi risikonya bisa dikurangi secara signifikan," ujarnya.

Yannella menambahkan, perusahaan sebenarnya tidak perlu menyimpan data pribadi pengguna untuk memverifikasi usia. Ada cara untuk memastikan usia seseorang tanpa menyimpan dokumen identitas, misalnya dengan membuat token verifikasi sekali pakai. Namun sampai teknologi itu benar-benar terbukti andal, kesepakatan senilai USD 18 miliar ini tetap menyisakan pertanyaan besar: apakah anak-anak benar-benar lebih aman, atau justru data semua orang jadi taruhannya?

Follow www.bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks